Autis Pada Anak

Autis pada anak merupakan salah satu dari gangguan pada ana yang ditandai dengan munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi social dan perilakunya. Autis juga merupakan kelainan perilaku yang penderitanya hanya tertarik pada aktvitas metalnya sendiri. Autis dapat disebabkan oleh gangguan saraf otak, virus (toxoplasmosis, cytomegalo, rubella, dan herpes)  yang ditularkan ibu ke janin dan lingkungan yang terkontaminasi zat beracun. Kriteria diagnostic autis pada anak :

  1. Tidak adanya respons emosional dan social yang normal terhadap anak-anak lain dan orang dewasa
  2. Gangguan perkembangan bahasa yang ditunjukan dengan gagalnya mengembangkan kemampuan bicara atau penggunaan bahasa yang aneh dan ketidakmampuan untuk memahami bahasa lisan.
  3. Melawan terhadap perubahan atau melakukan pengulangan tingkah laku aneh yang bersifat kompulsif (perilaku yang disadari dan berulang). Contoh menggoyang-goyang badan menggeleng-geleng kepala.
  4. Berawal sebelum umur 3 bulan.
  5. Lamanya menahun

Deteksi dini autis pada anak :

  1. Anak pada usia 30 bulan menunjukkan belum bisa bicara untuk komunikasi
  2. Memiliki sifat cuek dan cenderung hiperaktif terhadap lingkungannya
  3. Anak tidak mampun bermain bersama teman sebayanya
  4. Terjadi pengulangan pada perilaku yang tidak sewajarnya contohnya menggoyang-goyangkan kepala atau badan berulang-ulang.

Autis pada anak merupakan gangguan neurolobiologis yang menetap. Gangguan neurobiologist tidak bisa diobati, tapi gejala-gejalanya bisa dihilangkan atau dikurangi, sampai orang awam tidak bisa lagi membedakan mana anak non autis dan anak penderita autis. Semakin dini terdiagnosis dan ditangani. Maka semakin besar kesempatan untuk sembuh. Penanganan autis nisa dilakukan dengan beberapa cara. Metode yang sering dipakai di Indonesia adalah Applied Behavioral Analysis (ABA). Teknik ABA ini memiliki beberapa hal dasar yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. One on one. Satu terapis menangani satu anak
  2. Kepatuhan (compliance) dan kontak mata
  3. Siklus dari Discrete Trial Training, tahap ini dimulai dengan member intruksi dan diakhiri dengan pemberian imbalan.
  4. Fadling, mengarahkan anak ke perilaku target dengan pemberian banyak contoh dan makin lama contoh makin dikurangi secara bertahap.
  5. Shaping. Pemberian tahap-tahap pada satu perilaku yang diharapkan semakin lama semakin mendekati tujuan.
  6. Chaining. Mengajarkan suat perilaku yang kompleks, kemudian dipecah menjadi beberapa aktivitas ringan yang disusun secara berurutan.
  7. Discrimination training. Tahap identifikasi dengan adanya pembanding yang mana  satu item sudah di label benar, yang kemudian ditambah secara bertahap.
  8. Mengajarkan pada anak konsep warna, bentuk, huruf, angka dan lain-lain.
Rekomendasi:Konsumsi VitaBrain, Suplemen Vitamin Untuk Otak Anak, BAGUS Untuk Perkembangan Anak Autis. Lihat detail di sini

This entry was posted in Anak Autis and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.